CIREBON RAYA | BEKASI — Dedi Mulyadi, akhirnya menanggapi kritik yang ditujukan kepadanya setelah bencana melanda beberapa wilayah di Jawa Barat.
Seperti diketahui, banjir dan tanah longsor melanda beberapa wilayah di Jabar, pada Januari 2026.
Teramati bahwa pekan lalu terjadi cuaca buruk yang melanda Bogor dan sekitarnya, mengakibatkan hujan terus menerus.
Hal ini juga termasuk wilayah lain di Jawa Barat, menyebabkan beberapa bencana alam.
Bencana-bencana ini mengakibatkan banyak korban, bahkan beberapa di antaranya meninggal dunia.
Gubernur Jawa Barat juga menerima beberapa kritik selama bencana tersebut.
Kritik ini termasuk kunjungannya ke lokasi tanah longsor Cisarua di Bandung Barat.
Kritikan tajam termasuk tuntutan warga Bekasi agar ia memberikan solusi terkait masalah banjir.
Ia menanggapi semua isu tersebut melalui akun media sosialnya, pada hari Minggu (1 Februari 2026).
Dedi juga menanggapi kritik bahwa gubernur harus mengatasi banjir di Bekasi dan kemudian memberikan solusi.
Dedi Mulyadi menyatakan bahwa ia terus mencari solusi untuk masalah banjir di Bekasi.
"Saya terus mencari solusi untuk masalah banjir di Bekasi. Pertama, jika saya katakan bahwa pengubahan lahan sawah (rawa situ) menjadi danau memang merupakan kesalahan, dan kesalahan lainnya adalah mengapa izin tersebut diberikan," kata KDM.
"Kedua, saya mendesak pemerintah kota dan kabupaten untuk melakukan perubahan pada perencanaan tata ruang, termasuk pemerintah provinsi," kata Dedi Mulyadi.
"Ketiga, saya telah bertemu dengan Menteri Pekerjaan Umum untuk mempercepat pembangunan Danau Cibeet. Ini juga merupakan solusi, dan akan selesai pada tahun 2028," katanya.
KDM melanjutkan, menjelaskan bahwa ia juga telah meminta BBWS (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) untuk memperkuat tanggul agar tidak mudah jebol.
"Langkah ini diambil sebagai solusi untuk berbagai masalah. Oleh karena itu, saya mohon maaf jika kepemimpinan saya belum memuaskan semua pihak dan masih memiliki banyak kekurangan," katanya.
