CIREBON RAYA | Candi Borobudur merupakan monumen Buddha terbesar di dunia sekaligus salah satu mahakarya arsitektur Nusantara yang dibangun pada masa Dinasti Syailendra sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Kompleks candi ini tidak hanya mengagumkan karena ukuran dan reliefnya, tetapi juga karena susunan 73 stupa yang menjadi simbol perjalanan spiritual umat Buddha menuju pencerahan.
Susunan 73 Stupa Borobudur
Secara keseluruhan, Candi Borobudur memiliki 73 stupa, yang terdiri atas:
72 stupa pendamping (stupa berlubang)
1 stupa induk (stupa utama)
Susunan tersebut bukanlah kebetulan, melainkan dirancang secara matematis dan filosofis untuk menggambarkan tingkatan kesadaran manusia menurut ajaran Buddha Mahayana.
72 Stupa Pendamping
Sebanyak 72 stupa kecil tersebar mengelilingi stupa induk pada tiga pelataran melingkar di bagian paling atas candi.
Rinciannya adalah:
Teras melingkar pertama: 32 stupa
Teras melingkar kedua: 24 stupa
Teras melingkar ketiga: 16 stupa
Setiap stupa memiliki bentuk seperti lonceng dengan lubang-lubang pada dindingnya. Pada dua teras pertama, lubang berbentuk wajik (diamond), sedangkan pada teras ketiga berbentuk persegi (square). Perbedaan pola tersebut diyakini melambangkan tahapan menuju kesempurnaan spiritual.
Di dalam setiap stupa terdapat arca Buddha dalam posisi duduk bermeditasi. Arca-arca tersebut sebagian besar menggambarkan Buddha Dhyani dengan sikap tangan (mudra) yang melambangkan kebijaksanaan dan pencerahan.
1 Stupa Induk
Di pusat tiga pelataran melingkar berdiri stupa induk, yang menjadi titik tertinggi Borobudur.
Berbeda dengan stupa pendamping, stupa utama:
Tidak memiliki lubang pada dindingnya.
Berukuran jauh lebih besar, dengan diameter sekitar 9,9 meter dan tinggi sekitar 7 meter.
Menjadi simbol tertinggi dari kesempurnaan spiritual atau Nirwana, yaitu keadaan terbebas dari penderitaan dan siklus kelahiran kembali (samsara).
Tidak seperti stupa-stupa kecil yang berisi arca Buddha, bagian dalam stupa induk ditemukan kosong. Kekosongan ini telah lama menjadi bahan kajian para arkeolog dan sejarawan.
Makna Filosofis Kekosongan Stupa Induk
Terdapat beberapa pandangan mengenai mengapa stupa utama tidak berisi arca Buddha.
Pandangan pertama menyebutkan bahwa ruang kosong tersebut melambangkan konsep Sunyata (kekosongan) dalam filsafat Buddha Mahayana. Kekosongan bukan berarti tidak ada apa pun, melainkan menggambarkan hakikat tertinggi yang melampaui bentuk, nama, dan dunia material.
Pandangan lain menyatakan kemungkinan pernah terdapat arca Buddha yang belum selesai dipasang atau telah hilang akibat kerusakan selama berabad-abad. Namun hingga kini belum ditemukan bukti arkeologis yang benar-benar memastikan keberadaan arca tersebut.
Karena itu, sebagian besar ahli cenderung melihat kekosongan stupa induk sebagai bagian dari simbolisme yang memang disengaja dalam rancangan Borobudur.
Perjalanan Spiritual Menuju Pencerahan
Borobudur dibangun sebagai representasi alam semesta menurut kosmologi Buddha.
Bangunan ini terdiri atas tiga tingkatan utama:
Kamadhatu, melambangkan dunia yang masih dikuasai hawa nafsu.
Rupadhatu, melambangkan dunia yang telah meninggalkan nafsu, tetapi masih terikat bentuk.
Arupadhatu, melambangkan dunia tanpa bentuk, tempat manusia mencapai kesempurnaan batin.
Ketiga pelataran melingkar yang dipenuhi 72 stupa berada pada tingkat Arupadhatu. Tidak lagi terdapat relief pada bagian ini, mencerminkan bahwa manusia telah meninggalkan dunia material dan memasuki tahap kontemplasi murni.
Di puncaknya berdiri stupa induk sebagai lambang tujuan akhir perjalanan spiritual.
Mahakarya Arsitektur Dinasti Syailendra
Borobudur diperkirakan dibangun sekitar tahun 780–830 M pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra. Pembangunannya melibatkan jutaan balok batu andesit yang disusun tanpa semen menggunakan sistem saling mengunci (interlocking), sebuah teknologi yang menunjukkan tingkat rekayasa bangunan yang sangat maju pada zamannya.
Selain memiliki 73 stupa, Borobudur juga dihiasi lebih dari 2.600 panel relief dan 504 arca Buddha, menjadikannya ensiklopedia batu yang menceritakan ajaran Buddha, kehidupan masyarakat Jawa Kuno, hingga perjalanan manusia menuju kebijaksanaan.
Warisan Dunia
Setelah sempat terkubur oleh abu vulkanik dan vegetasi selama berabad-abad, Borobudur ditemukan kembali pada awal abad ke-19. Berbagai upaya restorasi kemudian dilakukan, termasuk pemugaran besar pada 1973–1983 yang didukung pemerintah Indonesia dan UNESCO.
Pada tahun 1991, Candi Borobudur ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, pengakuan atas nilai universalnya sebagai salah satu pencapaian terbesar peradaban manusia dalam bidang arsitektur, seni, agama, dan filsafat.
Hingga kini, 73 stupa Borobudur bukan hanya menjadi ikon wisata Indonesia, tetapi juga simbol perjalanan manusia dari dunia yang penuh keterikatan menuju pencerahan, menjadikan setiap langkah menaiki candi sebagai metafora perjalanan batin menuju kebijaksanaan.(dea)
