Notification

×

Mobil Listrik China Tak Laku di Pasaran? Gelombang Bangkrut Mulai Menghantam Industri

Kamis, April 09, 2026 | 17:27 WIB Last Updated 2026-04-09T10:27:39Z

CIREBON RAYA ■ CIRKOT— Industri mobil listrik China yang sempat digadang-gadang sebagai masa depan otomotif global kini mulai menunjukkan sisi rapuhnya. Setelah bertahun-tahun mengalami pertumbuhan pesat, sejumlah produsen justru tumbang satu per satu akibat penjualan yang melemah dan persaingan yang semakin brutal.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: apakah mobil listrik China mulai kehilangan daya tarik di pasar?

Penjualan Melambat, Pasar Mulai Jenuh

Dalam beberapa tahun terakhir, pasar kendaraan listrik di China mengalami lonjakan signifikan berkat dukungan subsidi besar dari pemerintah. Namun kini, tren tersebut mulai berubah.

Permintaan tidak lagi tumbuh secepat sebelumnya. Bahkan, beberapa laporan menyebut pasar mulai mendekati titik jenuh, terutama di kota-kota besar. Konsumen yang sebelumnya antusias kini menjadi lebih selektif, terutama karena banyaknya pilihan dengan spesifikasi yang mirip.

Kondisi ini membuat sejumlah merek kesulitan menjaga angka penjualan tetap stabil.

Perang Harga Tak Terhindarkan

Untuk bertahan di tengah lesunya permintaan, produsen besar seperti BYD memicu perang harga dengan menurunkan banderol kendaraan secara agresif.

Langkah ini memang menarik minat konsumen, namun di sisi lain menghantam produsen kecil yang tidak memiliki kekuatan finansial yang sama. Margin keuntungan menyusut tajam, bahkan banyak perusahaan terpaksa menjual dengan kerugian.

Akibatnya, perusahaan yang tidak cukup kuat mulai tersingkir dari persaingan.

Gelombang Bangkrut Tak Terelakkan

Sejumlah nama besar yang pernah menjadi sorotan kini harus mengakui kekalahan. Byton gagal melanjutkan produksi dan bangkrut sebelum produknya benar-benar massal.

Nasib serupa dialami Human Horizons yang menghentikan operasional setelah gagal mencapai target penjualan.

Sementara itu, WM Motor masih berjuang bertahan melalui restrukturisasi utang, meski masa depannya belum pasti.

Fenomena ini bukan kasus tunggal. Sejak 2018, ratusan merek kendaraan listrik di China telah hilang dari pasar, menandakan ketatnya persaingan di industri ini.

Subsidi Dipangkas, Beban Kian Berat

Salah satu faktor utama yang memperparah kondisi adalah berkurangnya dukungan pemerintah. Subsidi yang sebelumnya menjadi penopang utama kini mulai dikurangi.

Tanpa bantuan tersebut, harga mobil listrik menjadi kurang kompetitif, sementara biaya produksi tetap tinggi terutama untuk baterai dan teknologi.

Bagi perusahaan kecil, kondisi ini menjadi pukulan telak.

Hanya yang Terkuat yang Bertahan

Di tengah badai ini, hanya segelintir pemain besar yang diprediksi mampu bertahan. Selain BYD, produsen dengan skala besar dan dukungan finansial kuat masih memiliki peluang untuk mendominasi pasar, baik di dalam negeri maupun global.

Sebaliknya, perusahaan kecil dan startup yang sebelumnya bermunculan kini menghadapi realitas pahit: tanpa inovasi kuat dan modal besar, bertahan di industri ini hampir mustahil.

Bukan Tak Laku, Tapi Seleksi Alam

Meski banyak yang menyebut mobil listrik China “tak laku di pasaran”, realitanya tidak sesederhana itu. Permintaan memang masih ada, namun tidak cukup besar untuk menampung ratusan merek sekaligus.

Yang terjadi saat ini lebih tepat disebut sebagai “seleksi alam industri”. Pasar mulai menyaring mana produk yang benar-benar diminati dan mana yang tidak mampu bersaing.

Gelombang bangkrut yang terjadi justru menjadi fase penting menuju industri yang lebih matang.

Industri mobil listrik China kini memasuki babak baru yang lebih kompetitif dan penuh tekanan. Era pertumbuhan instan telah berakhir, digantikan oleh persaingan kualitas, efisiensi, dan kekuatan finansial.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah mobil listrik China laku atau tidak, melainkan: siapa yang akan bertahan dan menjadi penguasa pasar global di masa depan. (mia)