JAKARTA, CIREBON RAYA — Gelar profesor biasanya membawa orang pada cerita tentang ruang kuliah, penelitian, buku, jurnal ilmiah, dan perjalanan akademik yang panjang.
Namun perjalanan Prof. Firmansyah SH, SE, MM, PhD, menurut penuturan kakaknya, Andi Mahsar Mappasawang, bermula dari tempat yang jauh dari gambaran kehidupan akademik: lingkungan masa muda yang keras, penuh pergulatan, dan membutuhkan keberanian untuk bertahan.
Dari lingkungan itulah perjalanan Firmansyah kemudian bergerak ke arah yang berbeda—pendidikan, ilmu pengetahuan, hingga dunia akademik.
Kisah tersebut bukan semata tentang bagaimana seseorang memperoleh gelar akademik. Lebih jauh, ia menggambarkan proses perubahan manusia, peran keluarga, doa seorang ibu, pendidikan dan bagaimana pengalaman masa lalu dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang berbeda.
*Dari lingkungan keras menuju ruang ilmu*
Andi Mahsar menggambarkan adiknya sebagai sosok yang sejak muda memiliki karakter kuat dan keberanian besar.
Dalam lingkungan pergaulan yang keras di masa mudanya, Firmansyah disebut pernah menjadi sosok yang disegani. Mahsar bahkan menggunakan istilah "bos preman" untuk menggambarkan pengaruh adiknya di lingkungan tersebut.
Namun Mahsar menegaskan, menurut pandangannya, keberanian itu tidak identik dengan kejahatan.
"Ada juga mantan preman bisa jadi profesor. Tapi pekerjaan utamanya dakwah," ujar Mahsar.
Bagi Mahsar, perjalanan adiknya kemudian menunjukkan bahwa karakter dan keberanian seseorang dapat menemukan bentuk baru ketika diarahkan kepada pendidikan dan pengabdian.
Pengaruh yang dahulu muncul dari keberanian menghadapi lingkungan keras, perlahan berubah menjadi pengaruh melalui ilmu.
*Di balik perjalanan itu ada doa seorang ibu*
Dalam cerita keluarga yang disampaikan Mahsar, sosok ibu menempati posisi penting dalam perjalanan Firmansyah.
Salah satu kenangan yang masih diingatnya adalah ketika Firmansyah muda memiliki rambut gondrong. Sang ibu, yang melihat perubahan perilaku anaknya, pernah memotong rambut Firmansyah ketika ia sedang tidur.
Cerita sederhana itu menjadi bagian dari gambaran hubungan antara seorang ibu dan anaknya.
Bagi Mahsar, doa ibu merupakan salah satu kekuatan yang menyertai perjalanan hidup Firmansyah.
Tidak semua perubahan manusia terjadi secara tiba-tiba. Kadang perubahan tumbuh dari proses panjang yang tidak terlihat: nasihat keluarga, doa, pengalaman, pendidikan dan kesempatan untuk memilih jalan yang berbeda.
*Ketika seorang anak ingin membela ibunya*
Ada pula sebuah peristiwa keluarga yang menurut Mahsar menggambarkan kuatnya ikatan Firmansyah dengan sang ibu.
Ketika ayah mereka hendak menikah lagi dan melihat ibunya bersedih, Firmansyah muda disebut sempat bereaksi keras. Ia bahkan mengambil badik dan kelewang dan mengasahnya.
Ketika ditanya ibunya hendak melakukan apa, Firmansyah mengatakan ingin mencegah pesta tersebut.
Namun sang ibu memilih menenangkan anaknya.
"Jangan memalukan Tettamu, jangan bikin masiri' keluargamu, Nak. Biarlah amma' yang merasakannya," demikian Mahsar mengenang pesan ibunya.
Bagi keluarga, peristiwa itu menjadi salah satu gambaran karakter Firmansyah pada masa muda sekaligus keteguhan ibunya dalam menghadapi persoalan keluarga.
Di kemudian hari, energi dan keberanian yang sama menemukan saluran berbeda melalui pendidikan dan pengabdian.
*Pendidikan mengubah arah perjalanan*
Perubahan tersebut tidak berlangsung dalam semalam.
Setelah melewati masa muda, Firmansyah memasuki dunia pendidikan dan menempuh perjalanan akademik yang panjang hingga meraih sejumlah gelar, yakni SH, SE, MM dan PhD.
Perjalanan itu kemudian membawanya ke dunia akademik hingga menyandang gelar profesor di ASEAN University International, menurut keterangan keluarga.
Bagi Andi Mahsar, pencapaian tersebut merupakan sesuatu yang membanggakan.
"Saya merasa ikut berhasil membimbingnya hingga menjadi profesor," kata Mahsar.
Namun perjalanan akademik seorang profesor tentu tidak dibentuk oleh satu orang.
Pendidikan, proses belajar, penelitian, lingkungan akademik, kerja keras, kesempatan, guru, keluarga dan pengalaman hidup semuanya dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Dalam konteks itulah, kisah Firmansyah menjadi menarik: pengalaman hidup yang beragam tidak berhenti sebagai masa lalu, tetapi dapat menjadi modal untuk membentuk arah kehidupan berikutnya.
*Gelar profesor bukan garis akhir*
Menjadi profesor secara administratif merupakan pencapaian akademik. Tetapi bagi Firmansyah, menurut kisah yang disampaikan keluarganya, gelar tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai simbol status.
Ilmu membawa tanggung jawab.
Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar pula tuntutan untuk menggunakan pengetahuan yang dimilikinya bagi kepentingan masyarakat.
Di titik inilah kisah Firmansyah kemudian dikaitkan dengan dakwah.
Dakwah tidak selalu harus berlangsung di atas mimbar. Ia dapat hadir melalui pendidikan, penelitian, pemerintahan, dunia usaha, seni, teknologi, maupun berbagai ruang sosial lainnya.
Seorang akademisi, misalnya, dapat berdakwah melalui ilmu, keteladanan, integritas dan kontribusinya kepada generasi muda.
Dengan cara pandang tersebut, kampus bukan hanya tempat memperoleh gelar, tetapi juga ruang membentuk manusia yang memiliki pengetahuan sekaligus tanggung jawab sosial.
*Masa lalu tidak harus menentukan masa depan*
Salah satu pesan penting dari perjalanan Firmansyah adalah bahwa masa lalu seseorang tidak selalu menjadi penentu masa depannya.
Lingkungan dapat membentuk seseorang, tetapi manusia juga memiliki kemampuan untuk memilih arah hidupnya.
Keberanian dapat berubah menjadi keberanian untuk belajar.
Pengaruh dapat berubah menjadi kemampuan membimbing.
Energi masa muda dapat diarahkan menjadi produktivitas.
Dan pengalaman hidup dapat menjadi pelajaran yang kemudian dibagikan kepada generasi berikutnya.
Perjalanan dari lingkungan keras menuju dunia akademik karena itu bukan sekadar perpindahan tempat. Ia merupakan perubahan orientasi hidup.
Dari kekuatan fisik menuju kekuatan pengetahuan.
Dari pengaruh di lingkungan pergaulan menuju pengaruh melalui pendidikan.
Dari sekadar bertahan dalam kehidupan menuju upaya memberikan manfaat.
*Dari keluarga, untuk generasi berikutnya*
Kisah yang disampaikan Andi Mahsar tentang adiknya juga menunjukkan bahwa perjalanan seseorang tidak pernah sepenuhnya berdiri sendiri.
Ada keluarga yang memberi arah.
Ada ibu yang mendoakan.
Ada orang-orang yang membimbing.
Ada kesempatan yang datang.
Dan ada keputusan pribadi untuk mengambil jalan yang berbeda.
Karena itu, kisah Firmansyah dapat dibaca bukan hanya sebagai cerita tentang pencapaian akademik, tetapi juga sebagai pesan bagi generasi muda bahwa pendidikan dapat membuka jalan perubahan.
Gelar akademik memang penting sebagai bagian dari perjalanan profesional. Tetapi nilai seseorang pada akhirnya tidak hanya diukur dari berapa banyak gelar yang dimiliki.
Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan dengan ilmu tersebut.
Seberapa banyak ilmu itu digunakan untuk mendidik.
Seberapa jauh pengetahuan itu memberi manfaat.
Dan seberapa banyak orang lain yang mendapatkan kesempatan untuk tumbuh karena kehadirannya.
*Profesor sebagai amanah ilmu*
Pada akhirnya, perjalanan Firmansyah dari masa muda menuju dunia akademik membawa satu pesan sederhana: manusia tidak selalu harus terperangkap dalam cerita masa lalunya.
Perubahan mungkin membutuhkan waktu. Pendidikan membutuhkan proses. Dan keberhasilan membutuhkan kerja keras.
Namun ketika kesempatan bertemu dengan kemauan untuk berubah, jalan kehidupan dapat bergerak ke arah yang sama sekali berbeda.
Gelar profesor, dengan demikian, bukanlah akhir dari perjalanan.
Ia justru dapat menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar: menggunakan ilmu untuk mendidik, membangun, mengabdi dan memberi manfaat.
Dari jalanan menuju kampus, dari keberanian menuju pengetahuan, dan dari pengalaman hidup menuju pengabdian.
Itulah perjalanan yang membuat sebuah gelar tidak berhenti sebagai titel, tetapi memiliki cerita di belakangnya. (Jamira)

