JAKARTA, CirebonRaya.co.id – Putri Marino kembali hadir lewat karakter yang menuntut pendekatan berbeda dalam film Empat Musim Pertiwi. Aktris tersebut memerankan Pertiwi, seorang perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun.
Kepulangan Pertiwi bukan sekadar perjalanan kembali ke tempat asal. Ia harus berhadapan dengan masa lalu, pengalaman traumatis, serta lingkungan yang sudah berubah selama dirinya menjalani hukuman.
Film garapan sutradara Kamila Andini dan produser Ifa Isfansyah tersebut dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026.
Yang membuat film ini semakin mendapat perhatian, Empat Musim Pertiwi terpilih sebagai wakil Indonesia untuk kategori Best International Feature Film dalam ajang Academy Awards 2027.
Putri Marino Cari Cara Memahami Pertiwi
Memerankan Pertiwi menjadi tantangan tersendiri bagi Putri Marino. Karakter tersebut digambarkan sebagai perempuan yang masih muda secara usia, tetapi telah melewati pengalaman hidup yang panjang dan berat.
Putri memilih membaca buku sebagai salah satu cara untuk mendalami karakter tersebut. Baginya, pendekatan itu membantu memahami apa yang dirasakan dan dialami Pertiwi sebelum membawanya ke layar.
"Salah satu pintu masuk aku mengisi karakter Pertiwi adalah dengan membaca buku, untuk memahami apa yang dirasakan dan dialami Pertiwi," ujar Putri.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena Pertiwi bukan karakter yang hanya berhadapan dengan situasi masa kini. Ada pengalaman masa lalu yang terus membayangi perjalanan hidupnya.
Kepulangan yang Tidak Sesederhana Pulang
Dalam cerita Empat Musim Pertiwi, kepulangan menjadi titik awal bagi perubahan karakter utama.
Setelah 20 tahun berada di penjara, Pertiwi kembali ke lingkungan yang pernah dikenalnya. Namun, waktu telah mengubah banyak hal.
Ia kemudian harus berhadapan dengan masa lalu sekaligus mencari kembali identitas dirinya.
Bagi Putri, perjalanan Pertiwi memperlihatkan bahwa kembali ke suatu tempat tidak selalu berarti kembali menjadi pribadi yang sama.
"Pertiwi adalah perempuan yang harus berhadapan dengan masa lalu dan menemukan kembali dirinya. Kepulangan tidak selalu berarti kembali menjadi orang yang sama," kata Putri.
Kamila Andini Angkat Ketidakadilan dan Trauma
Sutradara Kamila Andini membawa persoalan ketidakadilan dan trauma kolektif ke dalam perjalanan Pertiwi.
Kamila mengatakan kisah tersebut tidak hanya berbicara mengenai pengalaman satu karakter, tetapi juga bagaimana pengalaman traumatis dapat memengaruhi seseorang dan lingkungan di sekitarnya.
"Apa yang terjadi dengan Pertiwi bicara tentang ketidakadilan. Ada trauma-trauma kolektif," ujar Kamila.
Namun, film ini tidak hanya menempatkan Pertiwi sebagai sosok yang berada dalam posisi rentan.
Perjalanan karakternya juga mengeksplorasi bagaimana seseorang yang mengalami kerentanan dapat menemukan kekuatan dan bahkan menjadi sumber kekuatan bagi orang lain.
Bromo Jadi Bagian Penting dari Cerita
Selain karakter dan konflik cerita, lanskap alam menjadi salah satu elemen yang menonjol dalam Empat Musim Pertiwi.
Kawasan Bromo, Jawa Timur, digunakan sebagai bagian dari visual film. Lanskap tersebut turut membangun suasana perjalanan Pertiwi setelah kembali dari penjara.
Film ini juga menggunakan elemen busana bergaya western untuk memperkuat atmosfer yang dibangun sepanjang cerita.
Perpaduan antara karakter, lanskap, busana, dan atmosfer tersebut menjadi bagian dari pendekatan visual Kamila Andini dalam membawa perjalanan Pertiwi ke layar lebar.
Drama Bertemu Misteri dan Fiksi Ilmiah
Empat Musim Pertiwi tidak hadir sebagai drama konvensional.
Film ini memadukan sejumlah genre, mulai dari drama, suspense thriller, misteri hingga fiksi ilmiah.
Perpaduan tersebut membuat perjalanan Pertiwi tidak hanya berpusat pada persoalan masa lalu dan kehidupan setelah kembali ke masyarakat, tetapi juga membawa unsur misteri dalam ceritanya.
Sebelum dirilis secara luas, film tersebut telah menjalani penayangan khusus. Pihak produksi menyebut tiket untuk penayangan terbatas tersebut mendapat respons positif dan terjual habis. (RAFAEL)
