Notification

×

Ratusan Siswa Diduga Keracunan MBG di Cirebon, Sampel Makanan Diuji di Laboratorium

Selasa, Oktober 20, 2026 | 22:22 WIB Last Updated 2026-10-20T15:22:09Z

CIREBONRaya.co.id — Lebih dari 100 pelajar dan penerima manfaat layanan posyandu di wilayah Kalijaga, Kota Cirebon, Jawa Barat, diduga mengalami keracunan makanan pada Selasa (20/10), setelah mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Para korban mengalami keluhan mual dan pusing hingga membutuhkan penanganan medis di empat rumah sakit, yakni RSUD Gunung Jati, RS Ciremai, RS Siloam Putra Bahagia, dan RS Cahaya Bunda.

Wali Kota Cirebon Effendi Edo mengatakan, tidak ada pasien yang dilaporkan dalam kondisi kritis hingga Selasa malam. Sebagian pasien juga telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan.

"Alhamdulillah, tidak ada yang kritis, karena penanganan rumah sakit sangat cepat. Sudah ada yang pulang," kata Edo kepada wartawan di RS Siloam Putra Bahagia, Cirebon, Selasa (20/10) malam.

Ia mengatakan Pemerintah Kota Cirebon berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), rumah sakit, dan instansi terkait untuk memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis sesuai kebutuhan.

Anak-anak yang terdampak berasal dari SDN Kalijaga, SDN Taman Kalijaga Permai, TK Teratai, serta penerima manfaat layanan posyandu yang disebut sebagai PM3B dalam laporan awal.

Sebagai langkah penanganan, Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan kepada para penerima manfaat tersebut.

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Cirebon, Yulian Septa, mengatakan penghentian operasional atau suspend diberlakukan mulai Selasa malam hingga batas waktu yang belum ditentukan.

"Mulai malam ini  (20/10), SPPG tersebut resmi kami suspend sampai batas waktu yang belum ditentukan terkait dugaan keracunan ini," kata Yulian.

Menurut dia, SPPG tersebut memiliki kapasitas pelayanan sekitar 2.500 porsi makanan per hari bagi 15 kelompok penerima manfaat. Penghentian sementara dilakukan menyusul munculnya laporan gangguan kesehatan pada sejumlah penerima makanan.


BGN masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.

Yulian mengatakan sampel makanan, termasuk telur puyuh dan menu lainnya, telah dikirim ke laboratorium untuk diperiksa. Hasil pengujian diharapkan dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan sumber kontaminasi.

Namun, hingga Selasa malam, belum ada hasil pemeriksaan yang memastikan jenis makanan atau faktor penyebab gangguan kesehatan para korban.

BGN juga menyatakan akan menanggung biaya perawatan dan pengobatan para korban di rumah sakit.

Pemeriksaan sampel makanan dan pemantauan kondisi pasien masih berlangsung. Hasil laboratorium akan menjadi salah satu dasar bagi pihak berwenang untuk menentukan langkah penanganan berikutnya terhadap SPPG yang bersangkutan. (Ell)