Notification

×

Fenomena Sewa iPhone dan Tekanan Gaya Hidup Hedon di Hari Lebaran

Sabtu, Maret 21, 2026 | 19:59 WIB Last Updated 2026-03-21T12:59:06Z

CIREBON RAYA | CIREBON — Lonjakan bisnis sewa iPhone menjelang Lebaran bukan sekadar cerita tentang peluang usaha, tetapi juga cermin realitas sosial masyarakat hari ini. 

Di balik ludesnya berbagai tipe iPhone, mulai dari XR, 11 Pro, 13 hingga 16, terselip potret tentang kebutuhan akan pengakuan, tekanan gaya hidup, hingga keterbatasan ekonomi.

Rara, pelaku usaha rental gadget, menyebut hampir seluruh unitnya habis disewa. 

"Untuk saat ini beberapa tipe sudah sold out," kata dia, hari ini.

Namun, tingginya permintaan ini tidak bisa dilepaskan dari fenomena sosial yang lebih luas. Di era media sosial, perangkat bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan simbol status. Lebaran, yang sejatinya menjadi momen kembali ke kesederhanaan, justru kerap berubah menjadi panggung pembuktian diri.

Menariknya, tidak semua penyewa datang demi gengsi. Sebagian memang memanfaatkan iPhone untuk kebutuhan produktif seperti foto katalog bisnis, tugas kuliah, hingga dokumentasi perjalanan. Namun, fakta bahwa banyak anak muda rela menyewa perangkat mahal untuk beberapa hari tetap menyisakan pertanyaan, apakah ini kebutuhan, atau sekadar tuntutan citra?

Rara sendiri mengakui mayoritas penyewa berusia 19 hingga 27 tahun, usia yang rentan terhadap tekanan sosial dan pencarian identitas.

Di sisi lain, sistem sewa yang kini minimal tiga hari dengan harga mulai Rp100 ribu menunjukkan adanya “akses instan” terhadap simbol kemewahan. Siapa pun bisa tampil “terlihat mampu”, meski hanya sementara.

Fenomena ini juga memperlihatkan pergeseran nilai, dari kepemilikan ke penampilan. Yang penting bukan lagi punya, tapi terlihat punya.

Untuk mengantisipasi risiko, Rara menerapkan seleksi ketat terhadap penyewa. Validasi dilakukan tidak hanya melalui KTP atau SIM, tetapi juga penelusuran jejak digital seperti akun Instagram hingga aktivitas WhatsApp.

"Kami lihat dari banyak sisi. Kalau akun baru atau mencurigakan, pasti kami dalami lagi," tegasnya.

Langkah ini menunjukkan sisi lain dari realitas, tingginya risiko di balik kebutuhan akan citra. Ketika penampilan menjadi prioritas, kepercayaan justru menjadi barang mahal.

Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, fenomena sewa iPhone ini menjadi ironi. Di satu sisi, daya beli terbatas. Di sisi lain, dorongan untuk tetap terlihat “layak” di hadapan publik justru semakin kuat.

Bisnis Rara yang dimulai sejak 2018 dari penyewaan kamera kini berkembang mengikuti arus zaman. Ia tidak sekadar menjual jasa, tetapi tanpa disadari juga melayani kebutuhan sosial masyarakat modern, kebutuhan untuk diakui.

Lebaran pun akhirnya tidak hanya menjadi soal kembali ke fitrah, tetapi juga tentang bagaimana seseorang ingin terlihat di mata orang lain.

Dan di situlah letak sindirannya, ketika kebahagiaan tak lagi diukur dari keikhlasan, melainkan dari seberapa “layak tampil” di layar. (*)