Notification

×

Makna Tradisi Siat Sarang Desa Adat Selat

Selasa, Februari 21, 2023 | 21:46 WIB Last Updated 2023-02-21T14:46:32Z

CIREBON RAYA | KARANGASEM — Dalam rangkaian pelaksanaan upacara Usaba Dimel, Desa Adat Selat melaksanakan tradisi Siat Sarang, pada Minggu (19/2/2023). Siat Sarang ialah salah satu runtutan tradisi Aci Petabuhan yang dilaksanakan dengan cara saling lempar daun enau dan dilakukan oleh para yowana / pemuda di Desa Adat Selat. 

Dijelaskan Jro Kilang Ngukuhin, Jro Mangku Wayan Gede Mustika jika pelaksanaan tradisi ini bermakna untuk melepaskan emosi, melepaskan segala hawa nafsu atau disimbolisasi dengan buta kala dan buta kali yang ada dalam diri kita masing-masing. Atraksi ini ialah untuk menetralisir kekuatan bhuta Kala di sejebag Jagat Desa Adat Selat.

"Aci petabuhan, pokok pecaruan nyomiaang Bhuana Agung dan Bhana Alit, salah satu aci petabuhan itu dilaksanakan tradisi Siat Sarang, yang harus di laksanakan terkait dengan pelaksanaan Aci Petabuhan sekaligus pengendalian diri," katanya.

Sarana untuk tradisi Siat Sarang ini, berasal dari daun enau yang dianyam di masing-masing rumah tangga di Desa Adat Selat, kemudian dianyam terlebih dahulu, sebelum dipakai Sarang. Sarang dibuat dalam bentuk gabungan daun girang, bambu, gunggung dan sebagainya dan digambarkan dalam bentuk butakala.

"Sarang yang dimaksud bermakna mengumpulkan. Yakni  mengumpulkan segala emosi, hawa nafsu yang kemudian dimasukkan ke dalam Sarang. Kemudian dengan ucapan atau sesapaan bahwa buta kala buta kali yang ada di rumah tangga maupun yang ada di masing-masing diri itu dilebur dengan harapan supaya berkumpul di Bale Agung karena akan di berikan suguhan," katanya. Siat memiliki arti perang, yakni memerangi hawa nafsu yang ada di dalam diri kita masing-masing dengan harapan agar para yowana ini bersih, suci dan fokus melaksanakan Aci Usaba Dimel.

Selanjutnya, alasan kenapa para peserta ini terdiri dari pemuda/ yowana atau yang belum menikah ini ialah karena gejolak darah muda yang umumnya penuh nafsu ini dapat dikendalikan. "Tidak hanya itu, juga supaya para pemuda ini tau bahwa tradisi ini agar terus dijaga. Agar betul-betul dikelola dengan baik dan terus dapat dilestarikan," harap Jro Mangku Wayan Gede Mustika. (Ami/bk)